Benteng tua saksi sejarah panjang Ambon (FB/@Bangunan Kolonial kota2 Indonesia)
MALUKU – Di jantung Kota Ambon berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang kolonialisme hingga dinamika politik Indonesia, yakni Benteng Nieuw Victoria. Benteng ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perebutan kekuasaan, perubahan rezim, hingga konflik pascakemerdekaan yang membentuk sejarah Maluku.
Dibangun sejak abad ke-16, Benteng Nieuw Victoria menyimpan kisah panjang yang melibatkan bangsa Portugis, Belanda, hingga Indonesia modern. Berikut ulasan lengkap perjalanan sejarahnya.
Sejarah Benteng Nieuw Victoria bermula pada tahun 1575, ketika bangsa Portugis membangun benteng pertahanan di wilayah Ambon. Saat itu, Maluku menjadi pusat perdagangan rempah dunia, terutama cengkeh yang sangat bernilai di pasar internasional.
Portugis memberi nama benteng ini Nossa Senhora Annucida, yang memiliki nuansa religius sesuai dengan tradisi Katolik yang mereka bawa. Fungsi utama benteng ini adalah sebagai pusat pertahanan sekaligus pengawasan jalur perdagangan rempah di kawasan timur Nusantara.
Secara strategis, lokasi benteng berada di pesisir yang memudahkan pengawasan kapal-kapal yang keluar masuk perairan Ambon. Dari sinilah Portugis berupaya mengontrol distribusi rempah dan memperkuat dominasi mereka di Maluku.
Kekuasaan Portugis di Ambon tidak bertahan lama. Pada tahun 1605, armada Belanda yang dipimpin oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil merebut benteng ini tanpa perlawanan berarti.
Setelah dikuasai Belanda, nama benteng diubah menjadi Nieuw Victoria, yang berarti Kemenangan Baru. Nama ini mencerminkan keberhasilan VOC dalam merebut wilayah strategis dari tangan Portugis.
Di bawah kendali VOC, Benteng Nieuw Victoria mengalami berbagai penguatan dan renovasi. Benteng ini dijadikan sebagai pusat administrasi kolonial sekaligus markas militer untuk mengontrol perdagangan rempah secara lebih ketat.
Dari benteng inilah VOC menjalankan sistem monopoli perdagangan yang terkenal ketat dan seringkali merugikan masyarakat lokal. Ambon pun menjadi salah satu pusat kekuasaan Belanda di kawasan timur Indonesia.
Selama masa kolonial Belanda, Benteng Nieuw Victoria memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kekuasaan di Maluku. Benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan.
Letaknya yang strategis menjadikan benteng ini sebagai titik kendali utama aktivitas ekonomi dan politik di Ambon. Dari sini, Belanda mengatur distribusi rempah, mengawasi pergerakan penduduk, serta mempertahankan dominasi mereka terhadap wilayah sekitar.
Benteng ini juga menjadi simbol kekuatan kolonial yang sulit ditembus. Struktur bangunannya yang kokoh dengan dinding tebal dan posisi strategis membuatnya sulit diserang oleh pihak luar.
Memasuki abad ke-20, situasi politik global berubah drastis dengan pecahnya Perang Dunia II. Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, termasuk Ambon, dan mengambil alih berbagai fasilitas militer, termasuk Benteng Nieuw Victoria.
Setelah Jepang kalah pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, situasi di Maluku tidak langsung stabil. Wilayah ini menjadi salah satu daerah yang mengalami konflik politik dan militer pascakemerdekaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: FB/@Bangunan Kolonial Kota2 Indonesia