Benteng tua terbengkalai di Passo Ambon (RICHARDO ARNOLD MARWA)
MALUKU - Di tengah padatnya permukiman warga di Negeri Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan. Tak banyak yang menyadari, di balik dinding-dinding kusam dan struktur yang mulai rapuh itu, tersimpan jejak panjang sejarah kolonial di Maluku. Bangunan tersebut dikenal sebagai Benteng Middleburg, salah satu peninggalan penting dari masa kekuasaan Portugis dan Belanda di wilayah timur Indonesia.
Benteng Middleburg bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu dari perebutan kekuasaan, strategi militer, hingga dinamika sosial masyarakat Maluku pada masa lampau. Sayangnya, keberadaan benteng ini kini semakin terpinggirkan, baik dari perhatian publik maupun pemerintah.
Sejarah Benteng Middleburg bermula dari kedatangan bangsa Portugis di Maluku pada abad ke-16. Sebagai wilayah penghasil rempah-rempah yang sangat bernilai, Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Portugis menjadi salah satu yang pertama menancapkan pengaruhnya di wilayah ini, termasuk di kawasan Passo.
Benteng ini pertama kali dibangun oleh Portugis sebagai bagian dari upaya memperkuat kontrol mereka atas jalur perdagangan dan wilayah strategis. Pembangunan benteng ini juga melibatkan masyarakat pribumi setempat, yang pada masa itu sering dijadikan tenaga kerja dalam proyek-proyek kolonial.
Keberadaan benteng ini menjadi penanda awal dominasi Portugis di wilayah Passo, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini dalam jaringan perdagangan rempah-rempah dunia.
Namun, kekuasaan Portugis di Maluku tidak berlangsung lama. Pada awal abad ke-17, Belanda melalui VOC mulai memperluas pengaruhnya di wilayah ini. Sekitar tahun 1610, Benteng Middleburg jatuh ke tangan Belanda seiring masuknya mereka ke Negeri Passo.
Setelah menguasai benteng tersebut, Belanda tidak hanya mengambil alih, tetapi juga melakukan renovasi besar-besaran. Tujuannya jelas: memperkuat posisi militer dan mempertahankan dominasi mereka atas wilayah strategis di Ambon.
Renovasi benteng ini berlangsung cukup lama dan baru selesai sekitar tahun 1700. Sejak saat itu, Benteng Middleburg menjadi salah satu titik pertahanan penting Belanda di kawasan Passo.
Secara geografis, Benteng Middleburg memiliki posisi yang sangat strategis. Benteng ini terletak di daratan sempit yang diapit oleh dua teluk, yaitu Teluk Binnen dan Teluk Baguala. Lokasi ini memungkinkan pengawasan terhadap aktivitas yang menghubungkan wilayah Leihitu dan Leitimur—dua kawasan penting di Ambon pada masa itu.
Selain itu, berdasarkan peta peninggalan Belanda, kedua teluk tersebut dahulu dihubungkan oleh sebuah kanal yang menjadi akses penting menuju benteng. Kanal ini memperkuat fungsi benteng sebagai pusat pengawasan dan kontrol jalur transportasi laut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi geografis kawasan ini mengalami perubahan. Proses sedimentasi menyebabkan garis pantai bergeser, sehingga kini jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi benteng. Perubahan ini turut mempengaruhi fungsi strategis benteng yang dahulu begitu vital.
Ironisnya, meskipun memiliki nilai historis tinggi, lokasi Benteng Middleburg saat ini justru tersembunyi di tengah permukiman warga. Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati halaman rumah penduduk, baik dari arah depan maupun belakang. Hal ini membuat benteng sulit terlihat dari jalan raya dan semakin terpinggirkan dari perhatian publik.
Jika melihat kondisi fisiknya saat ini, Benteng Middleburg bisa dibilang berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Struktur bangunan yang tersisa hanyalah sebagian kecil dari bentuk aslinya.
Benteng ini memiliki denah dasar berbentuk segi empat dengan ukuran bagian dalam sekitar 5 x 5 meter. Dindingnya tersusun dari batu bata tanpa lapisan plester, dengan ketebalan sekitar 50 cm—menunjukkan kekuatan konstruksi pada masanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Passo-ambon.digitaldesa.id