Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 22 APRIL 2026 • 09:00 WIB

Permainan Tradisional di Maluku: Enggo Lari, Nostalgia Seru yang Ajarkan Kebersamaan di Tengah Gempuran Gadget

Permainan Tradisional di Maluku: Enggo Lari, Nostalgia Seru yang Ajarkan Kebersamaan di Tengah Gempuran GadgetIlustrasi permainan tradisional Enggo Lari Maluku

MALUKU - Di tengah maraknya penggunaan gadget di kalangan anak-anak, permainan tradisional perlahan mulai terlupakan. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan-permainan ini menyimpan nilai budaya, filosofi, hingga pembelajaran sosial yang tidak kalah penting dibanding hiburan digital. Salah satu permainan tradisional yang masih melekat dalam ingatan masyarakat di Maluku adalah Enggo Lari yang juga dikenal dengan sebutan Enggo Raja atau Enggo Basambunyi.

Permainan ini sejatinya merupakan versi lokal dari petak umpet yang dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Meski konsepnya sama, Enggo Lari memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari istilah, lagu pembuka, hingga dinamika permainan yang unik. Lebih dari sekadar permainan, Enggo Lari adalah cerminan budaya lokal yang sarat makna dan nilai kehidupan.

Secara umum, Enggo Lari dimainkan oleh lebih dari dua orang. Dalam permainan ini, satu orang akan menjadi penjaga yang bertugas mencari pemain lain yang bersembunyi. Sementara itu, pemain lainnya akan mencari tempat persembunyian terbaik untuk menghindari kejaran penjaga.

Yang membedakan Enggo Lari dengan petak umpet biasa adalah keberadaan titik pusat yang disebut “Enggo”. Titik ini menjadi lokasi penting dalam permainan, karena penjaga harus tetap berada di sana saat menghitung, sekaligus melindunginya agar tidak disentuh oleh pemain lain.

Sebelum permainan dimulai, penjaga akan menutup mata dan menyanyikan lagu khas:

satu cari tampa
dua basambunyi
tiga grak, 1,2,3,4,5….

Lagu ini bukan sekadar hitungan biasa, tetapi menjadi bagian dari identitas permainan yang diwariskan secara turun-temurun. Di sinilah nuansa lokal terasa kuat menghadirkan keunikan yang tidak ditemukan dalam versi permainan modern.

Setelah hitungan selesai, penjaga mulai mencari pemain yang bersembunyi. Ketika berhasil menemukan seseorang, penjaga akan berteriak “ENGGO!” sebagai tanda bahwa pemain tersebut tertangkap.

Namun, permainan tidak berhenti di situ. Pemain yang ditemukan masih memiliki kesempatan untuk “selamat” jika ia mampu berlari cepat dan menyentuh titik Enggo sebelum disentuh oleh penjaga. Bahkan, pemain lain yang belum tertangkap juga bisa membantu dengan merebut Enggo terlebih dahulu dan berteriak “ENGGO!” untuk menyelamatkan temannya.

Dinamika ini membuat Enggo Lari menjadi permainan yang tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga strategi, kerja sama, dan keberanian. Anak-anak belajar untuk membaca situasi, mengambil keputusan cepat, dan bekerja sama secara tidak langsung.

Di balik keseruannya, Enggo Lari menyimpan nilai-nilai penting yang relevan hingga saat ini. Permainan ini mengajarkan kerja sama tim, karena pemain harus saling membantu untuk memenangkan permainan. Ada juga nilai sportivitas, di mana pemain harus menerima kekalahan dengan lapang dada ketika tertangkap.

Selain itu, kejujuran menjadi aspek penting dalam permainan ini. Tidak ada wasit atau aturan tertulis yang mengawasi jalannya permainan. Semua bergantung pada kesepakatan dan integritas pemain. Hal ini secara tidak langsung melatih karakter anak sejak dini.

Salah satu keunggulan permainan tradisional seperti Enggo Lari adalah tidak memerlukan alat khusus. Tidak ada gadget, tidak ada layar, dan tidak ada biaya mahal. Permainan ini hanya membutuhkan ruang terbuka—seperti halaman rumah, lapangan, atau area sekitar kampung.

Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama. Anak-anak bisa bermain dengan bebas, berinteraksi langsung, dan bergerak aktif. Dibandingkan dengan permainan digital yang cenderung pasif, Enggo Lari menawarkan pengalaman yang lebih menyeluruh—baik secara fisik, sosial, maupun emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Budaya-indonesia.org

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Permainan Tradisional di Maluku: Enggo Lari, Nostalgia Seru yang Ajarkan Kebersamaan di Tengah Gempuran Gadget

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!