Menggali Potensi Desa Wisata Negeri Hila: Negeri Budaya dan Rempah-rempah di Maluku Tengah
MALUKU - Terletak di pantai utara Pulau Ambon, Desa Wisata Negeri Hila merupakan salah satu kawasan yang menyimpan potensi besar di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Berjarak sekitar 37 kilometer dari pusat Kota Ambon, desa ini menjadi destinasi yang mudah dijangkau sekaligus menawarkan kekayaan budaya, sejarah, alam, dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini.
Secara geografis, Negeri Hila berada di wilayah dataran rendah pesisir dengan kontur sedikit berbukit ke arah selatan yang berbatasan langsung dengan Negeri Hative Besar, Kota Ambon. Posisi strategis ini menjadikan Hila tidak hanya sebagai kawasan hunian masyarakat, tetapi juga sebagai simpul penting pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal berbasis budaya dan sumber daya alam.
Dengan jumlah penduduk 1.425 kepala keluarga atau sekitar 6.850 jiwa, komposisi penduduk Negeri Hila relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan, yakni sekitar 55 persen pria dan 45 persen perempuan. Masyarakatnya dikenal ramah, terbuka, dan memiliki semangat gotong royong yang kuat dalam menjaga identitas desa sebagai negeri adat dan destinasi wisata.
Baca juga: 8 Potensi Unggulan Kota Ambon yang Jadi Andalan Maluku
Desa Wisata Negeri Hila dikenal sebagai “Negeri Budaya dan Rempah-rempah” sebuah identitas yang merepresentasikan sejarah panjang Maluku sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Hila tidak hanya menawarkan panorama alam pesisir, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, tradisi Islam, serta kekayaan seni budaya yang masih hidup dan dipraktikkan oleh masyarakatnya hingga saat ini.
Keberadaan fasilitas pendukung seperti Puskesmas Perawatan Hila yang beroperasi 24 jam, balai pertemuan, musholla, area parkir, hingga spot foto wisata menjadi nilai tambah yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Selain itu, penerapan prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) juga terus diperkuat, salah satunya melalui pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).
Aktivitas ekonomi masyarakat Negeri Hila sebagian besar bertumpu pada sektor pariwisata, perikanan, pertanian, serta usaha mikro berbasis rumah tangga. Kuliner lokal, kerajinan tangan (handycraft), dan produk olahan hasil laut menjadi komoditas unggulan yang berpotensi dikembangkan sebagai oleh-oleh khas desa wisata.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, peluang pengembangan UMKM terbuka lebar, mulai dari usaha kuliner tradisional, penyewaan jasa transportasi lokal, homestay, hingga produk kreatif berbasis budaya dan sejarah lokal. Sinergi antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah negeri menjadi kunci dalam memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal ini.
Baca juga: Patung Christina Martha Tiahahu di Maluku: Ikon Kota yang Sarat Makna dan Daya Tarik
Negeri Hila dianugerahi bentang alam pesisir yang indah, perbukitan hijau, serta kawasan hutan yang masih terjaga. Potensi sumber daya alam ini tidak hanya mendukung sektor pariwisata alam, tetapi juga menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Komunitas PALAHI HALAWANG (Merawat Negeri) berperan aktif dalam pelestarian lingkungan melalui survei kawasan rawan longsor, penghijauan, serta edukasi lingkungan. Upaya ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan desa wisata berbasis alam dan ekologi.
Sebagai desa wisata, Negeri Hila menawarkan pengalaman yang lengkap, mulai dari wisata budaya, sejarah, bahari, hingga wisata alam dan buatan. Wisatawan dapat menikmati atraksi budaya seperti Cakalele, Tari Lenso, Bambu Gila, Hadrat, Sawat, hingga Dana-dana, yang biasanya ditampilkan saat penyambutan tamu, festival, atau acara adat.
Selain itu, Negeri Hila juga dikenal dengan warisan religi seperti Al-Qur’an tertua, tradisi 7 Likur, Leka-leka Wae atau ngabuburit, serta Pesona Ramadhan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Akses menuju desa ini juga tergolong mudah. Wisatawan dapat menggunakan taksi, Grab, bus AKDP trayek Hila Ambon, ojek online maupun konvensional, hingga menyewa kendaraan pribadi dengan waktu tempuh rata-rata 60 menit dari Kota Ambon.
Sektor pertanian dan perikanan menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Negeri Hila. Hasil laut segar, tanaman perkebunan, serta potensi rempah-rempah masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan, baik dalam bentuk bahan mentah maupun produk olahan bernilai tambah.
Penguatan sektor ini dapat menjadi penopang ekonomi desa sekaligus mendukung konsep desa wisata berbasis keberlanjutan dan kearifan lokal.
Keberadaan berbagai komunitas aktif menjadi kekuatan sosial dan budaya Negeri Hila. Rumah Kita Hila bergerak di bidang seni dan budaya, HIKLA fokus pada kesehatan, HIELC pada pendidikan dan penguatan bahasa Inggris bagi anak-anak dan remaja, Hila Photography Club di bidang fotografi dan grafis, serta Komunitas Zumama yang melestarikan seni bernuansa Islami.
Baca juga: Batu Yadin: Spot Wisata Instagramable di Kepulauan Tanimbar
Komunitas-komunitas ini tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal yang dapat dikemas secara modern dan menarik bagi generasi muda.
Tantangan utama pengembangan Desa Wisata Negeri Hila terletak pada penguatan infrastruktur pendukung, promosi digital, serta peningkatan kapasitas SDM pariwisata. Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar untuk menjadikan Hila sebagai destinasi unggulan berbasis budaya, sejarah, dan ekowisata di Maluku.
Strategi pengembangan dapat difokuskan pada penguatan kolaborasi antara pemerintah negeri, komunitas, pelaku UMKM, dan generasi muda. Digitalisasi promosi wisata, pengembangan paket wisata tematik, serta peningkatan kualitas layanan menjadi langkah strategis untuk mendorong daya saing Desa Wisata Negeri Hila di tingkat regional maupun nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jadesta.kemenpar.go.id