Pemeriksaan pasien HIV/AIDS (Yemima Kaitjily/Humas)
MALUKU – Angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tergolong tinggi dan memerlukan perhatian serius. Fakta ini terungkap dari pendampingan serta pemeriksaan pasien HIV/AIDS yang dilakukan Klinik PDP HIV Melati RSUD Tiakur sepanjang tahun 2025.
Ketua Tim Penanganan HIV/AIDS RSUD Tiakur, dr. Valda A. Laipeny, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 ada 1.185 orang yang menjalani skrining HIV di seluruh wilayah MBD. Dari jumlah itu, 10 orang dinyatakan reaktif, ditambah 6 warga MBD yang terdeteksi positif di luar daerah dan kemudian dirujuk ke RSUD Tiakur. Total pasien baru sepanjang 2025 mencapai 16 orang, sehingga akumulasi kasus hingga akhir tahun menjadi 36 pasien. Sayangnya, tercatat 8 pasien meninggal dunia sepanjang tahun lalu.
Baca juga: Pemkab MBD Raih UHC Award 2026, Bupati Dorong Layanan Kesehatan Makin Optimal
“Kematian umumnya terjadi karena keterlambatan deteksi, kondisi pasien sudah stadium lanjut, atau ketidakpatuhan dalam minum obat antiretroviral (ARV) yang wajib dikonsumsi seumur hidup,” jelas dr. Valda.
Dengan estimasi penduduk sekitar 80 ribu jiwa, angka kasus HIV di MBD berada di kisaran 12-20 per 100.000 penduduk, jauh dari target eliminasi HIV 2030 yang ditetapkan pemerintah, yakni kurang dari 7 per 100.000 penduduk.
Menurut dr. Valda, perilaku seks bebas dan gonta-ganti pasangan menjadi faktor utama penularan HIV/AIDS, terutama jika tidak menggunakan pengaman atau melalui hubungan sesama jenis. Selain itu, penularan juga bisa terjadi lewat jarum suntik tidak steril, transfusi darah, serta dari ibu ke anak saat kehamilan dan persalinan.
Ia menegaskan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada tahap awal, penderita sering tidak menyadari karena gejala belum muncul. Orang dengan HIV tanpa gejala disebut ODHIV, sementara kondisi AIDS muncul ketika kekebalan tubuh melemah dan infeksi berat mulai menyerang.
Baca juga: Pemkab MBD Dorong Pengusaha Maksimalkan Program Tol Laut 2026
“Jika terdeteksi dini dan pasien patuh minum obat, kualitas hidup penderita bisa tetap baik dan produktif,” tambahnya.
Dr. Valda juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat, serta menghindari stigma. HIV tidak menular lewat kontak sosial seperti makan bersama atau berbincang. Tantangan terbesar justru ada pada akses layanan kesehatan di wilayah kepulauan.
Untuk menekan penyebaran, ia mengajak masyarakat menerapkan hidup sehat, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom dengan benar, serta memastikan layanan pemeriksaan HIV mudah diakses.
“Kami mengimbau pasien tetap tenang, patuh berobat, tidak putus obat, dan mengelola stres dengan baik. Dengan pengobatan teratur, HIV bisa dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Malukubaratdayakab.go.id