Jumat, 30 JANUARI 2026 • 21:32 WIB

Tradisi Abda’u di Desa Tulehu: Ritual Pengabdian, Sejarah Islam, dan Nilai Persaudaraan yang Terus Hidup di Maluku

Author

Tradisi Abda’u di Desa Tulehu (farhanihsann)

MALUKU - Desa Tulehu di Jazirah Leihitu, Maluku Tengah, dikenal luas sebagai salah satu negeri adat yang hingga kini masih teguh menjaga tradisi leluhur berbasis nilai-nilai Islam. Salah satu tradisi yang terus dilestarikan secara turun-temurun adalah Tradisi Abda’u, sebuah ritual pengabdian yang sarat makna sejarah, religiusitas, dan kebersamaan sosial masyarakat.

Tradisi Abda’u bukan sekadar peristiwa budaya tahunan, melainkan perjalanan panjang masyarakat Tulehu dalam memaknai iman, adat, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hingga hari ini, Abda’u tetap dilaksanakan setiap tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Adha.

Jejak Sejarah Abda’u: Dari Pegunungan Leihitu hingga Negeri Tulehu

Tradisi Abda’u diperkirakan mulai dilakukan sekitar tahun 1500 Masehi, atau sekitar satu abad setelah masuknya Islam ke Jazirah Leihitu. Sebelum Islam berkembang, masyarakat Leihitu diketahui mendiami kawasan pegunungan di sekitar Gunung Salahutu hingga Bukit Huwe. Pada masa itu, masyarakat masih menganut kepercayaan asli berupa animisme dan dinamisme yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.

Baca juga: Festival Pesona Meti Kei, Momen Langka Saat Laut Surut dan Budaya Kei Menyatu dengan Alam

Seiring masuk dan berkembangnya Islam, masyarakat Leihitu perlahan mulai berpindah dari wilayah pegunungan ke kawasan pesisir, termasuk menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tulehu. Meski memeluk agama Islam, masyarakat tidak serta-merta meninggalkan adat, melainkan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal.

Inilah yang kemudian melahirkan prinsip hidup masyarakat Tulehu yang hingga kini masih dijunjung tinggi, yakni adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah, dengan Al-Qur’an dan Hadis sebagai dasar hukum kehidupan bermasyarakat.

Asal-usul Tradisi Abda’u dan Bendera Tauhid

Tradisi Abda’u lahir dari peristiwa sejarah penting yang melibatkan para leluhur Tulehu, khususnya moyang dari marga Rumatau dan Nahumaruri. Dikisahkan, para leluhur tersebut melakukan perjalanan jauh untuk menyiarkan agama Islam ke wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Sebelum berangkat, sang leluhur menitipkan sebuah bendera bertuliskan kalimat tauhid “Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah” yang bermakna kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Bendera inilah yang kemudian menjadi simbol sakral dalam pelaksanaan Tradisi Abda’u. Bagi masyarakat Tulehu, bendera tersebut bukan sekadar kain, melainkan lambang pengabdian, keimanan, dan kebesaran Islam yang harus selalu dijunjung tinggi.

Makna Abda’u: Pengabdian Seorang Hamba kepada Allah SWT

Secara etimologis, kata Abda’u berasal dari bahasa Arab, yaitu abdi atau abda, yang berarti mengabdi. Tradisi Abda’u dimaknai sebagai proses ritual pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT, yang diwujudkan melalui dzikir, shalawat, serta rangkaian prosesi adat.

Tradisi Abda’u merupakan bentuk permohonan ampunan dan doa keselamatan kepada Allah SWT. Ritual ini dilakukan dengan mengarak bendera kebesaran Islam sambil melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Peserta Tradisi Abda’u tidak dibatasi jumlahnya, namun harus memenuhi satu syarat utama, yakni beragama Islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.

Prosesi Abda’u: Ritual Sakral yang Terstruktur

Pelaksanaan Tradisi Abda’u di Desa Tulehu dilakukan melalui beberapa tahapan yang terstruktur dan sarat makna, dimulai dari tahap persiapan hingga puncak ritual.

1. Tahap Persiapan

Tahap awal dimulai dengan musyawarah bersama antara tokoh adat, kepala desa, kepala kampung, imam desa, dan tokoh masyarakat. Pertemuan ini membahas seluruh aspek pelaksanaan Abda’u, mulai dari pembentukan panitia, penentuan lokasi, hingga pengumpulan sumbangan masyarakat untuk mendukung jalannya ritual.

Pada hari pelaksanaan, setelah sholat Idul Adha, para pemuda diarahkan kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap. Mereka kemudian menuju Air Raja atau Air Wailatu, sebuah sungai yang dianggap sakral, untuk membersihkan diri sekaligus berwudhu.

Usai mandi, para pemuda mengenakan pakaian khusus yang telah ditentukan panitia. Mereka juga diwajibkan mengenakan ikat kepala kain putih, sebagai simbol kesucian dan kesiapan diri dalam menjalani ritual pengabdian.

2. Tahap Pelaksanaan: Arak-arakan, Dzikir, dan Pengorbanan

Tahap pelaksanaan Tradisi Abda’u dilakukan pada siang hari setelah sholat Idul Adha. Prosesi dimulai dari pengkaulan di rumah imam, yang dilakukan bersama sekelompok ibu-ibu. Selanjutnya, ternak kurban yang telah dibungkus kain salele (sarung khusus) diarak keliling desa sebanyak satu putaran.

Arak-arakan tersebut diiringi dzikir dan shalawat yang menggema sepanjang jalan, menciptakan suasana religius dan sakral. Ratusan pemuda Tulehu, bertelanjang dada atau mengenakan kaos singlet dengan ikat kepala putih, berjalan beramai-ramai menuju rumah imam.

Sebelum prosesi perebutan bendera, tubuh dan rambut para pemuda dibasahi oleh imam. Ritual ini diyakini memberikan kekuatan fisik dan mental, serta menghilangkan rasa sakit selama prosesi berlangsung.

3. Puncak Ritual: Darah Kurban dan Simbol Pengorbanan

Setelah arak-arakan mengelilingi desa, rombongan tiba di pelataran masjid. Pada saat imam masjid mulai melakukan penyembelihan hewan kurban, suasana menjadi semakin khidmat.

Dari atas pelataran masjid, para ibu-ibu menebarkan bunga rampai yang harum baunya. Pada saat yang sama, darah kurban diperebutkan oleh para pemuda peserta Abda’u. Darah tersebut diyakini sebagai simbol darah suci Nabi Ismail, yang mengandung makna pengorbanan, keikhlasan, dan kesiapan membela kebenaran.

Bagi masyarakat Tulehu, prosesi ini melambangkan kesiapan generasi muda untuk berkorban demi menegakkan nilai kebenaran dan keimanan.

Nilai-Nilai Luhur dalam Tradisi Abda’u

Tradisi Abda’u terus dilestarikan karena mengandung nilai-nilai penting yang relevan dengan kehidupan masyarakat hingga kini.

Nilai Sosial: Tradisi Abda’u memperkuat kebersamaan, persatuan, dan gotong royong. Seluruh masyarakat terlibat aktif, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama.

Nilai Religius: Abda’u menjadi sarana penguatan iman dan pengabdian kepada Allah SWT. Ritual ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk ibadah kolektif yang mempererat hubungan spiritual masyarakat dengan Sang Maha Kuasa.

Nilai Budaya: Sebagai warisan leluhur, Tradisi Abda’u memiliki nilai budaya tinggi yang harus terus dilestarikan. Dzikir, shalawat, dan arak-arakan menjadi simbol harmonisasi antara adat dan Islam.

Nilai Pendidikan: Tradisi ini mengajarkan generasi muda tentang sejarah leluhur, etika, kepemimpinan, serta pentingnya menjaga hubungan sosial yang harmonis. Abda’u juga menjadi media pendidikan karakter yang membentuk moral dan budi pekerti.

Tradisi Abda’u, Identitas dan Warisan Tulehu

Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, Tradisi Abda’u tetap berdiri kokoh sebagai identitas masyarakat Desa Tulehu. Ritual ini menjadi bukti bahwa adat dan agama dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Abda’u adalah cerminan jati diri masyarakat Tulehu masyarakat yang religius, beradat, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya religi yang edukatif dan bermakna di Maluku.

Tradisi Abda’u bukan hanya milik Tulehu, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal.fib.uho.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU