Rabu, 04 MARET 2026 • 09:49 WIB

Tari Lala, Tarian Kehormatan yang Menyatukan Budaya Halmahera Tengah dan Galela

Author

Tari Lala (FB/@Sanggar Budaya Gogaro Nyinga)

MALUKU - Kekayaan budaya di wilayah Maluku Utara tidak pernah habis untuk ditelusuri. Dari ragam tradisi religi hingga tarian adat yang sarat makna, setiap daerah memiliki identitas khas yang diwariskan turun-temurun. Salah satu warisan budaya yang hingga kini tetap lestari adalah Tari Lala, tarian tradisional yang berkembang menjadi tarian kehormatan masyarakat Halmahera Tengah.

Tari Lala bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah simbol penghormatan, identitas kolektif, serta bukti nyata perpaduan budaya yang terjalin sejak puluhan tahun silam. Tarian ini ditampilkan dalam berbagai momentum penting seperti pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, hingga acara adat dan perayaan tradisional lainnya.

Menariknya, perjalanan Tari Lala tidak hanya berakar di Halmahera Tengah, tetapi juga memiliki jejak sejarah kuat di wilayah Galela, Halmahera Utara.

Dalam kehidupan masyarakat Halmahera Tengah, Tari Lala memiliki posisi istimewa. Ia menjadi tarian kehormatan yang selalu dihadirkan saat momen sakral maupun resmi. Ketika tamu penting datang berkunjung, Tari Lala dipersembahkan sebagai bentuk penghargaan dan sambutan hangat dari tuan rumah.

Gerakan Tari Lala dikenal anggun namun penuh wibawa. Iringan musik tradisional dan kostum yang dikenakan penari mencerminkan kekayaan budaya setempat. Setiap gerakan memiliki makna, mencerminkan rasa hormat, kebersamaan, dan nilai adat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, Tari Lala tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi, tetapi juga dipromosikan dalam berbagai festival budaya di Maluku Utara. Hal ini menjadi langkah penting agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan leluhur mereka.

Nama “Lala” sendiri menyimpan beragam interpretasi. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kata “lala” berasal dari frasa “La ila,” bagian dari zikir “La ilaha illallah.” Jika merujuk pada makna ini, Tari Lala memiliki akar spiritual yang kuat dan berkaitan dengan nilai-nilai religius Islam yang berkembang di wilayah tersebut.

Namun, ada pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa “lala” berasal dari bahasa lokal Gamrange. Dalam pengertian ini, “lala” merujuk pada tempat makan yang terbuat dari daun kelapa. Sementara di Galela, “lala” diartikan sebagai anyaman bambu yang digunakan sebagai wadah makanan.

Perbedaan tafsir ini menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya akar budaya Tari Lala. Ia tidak berdiri pada satu makna tunggal, melainkan lahir dari pertemuan berbagai unsur budaya dan bahasa lokal.

Perjalanan Tari Lala semakin menarik ketika menelusuri sejarahnya di wilayah Galela. Di daerah ini, Tari Lala yang juga dikenal dengan sebutan Tari Laila diperkenalkan sekitar tahun 1936 oleh masyarakat Maba yang menetap di Desa Limau.

Desa Limau dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang dan kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini. Letak geografisnya yang strategis menjadikannya pusat perdagangan dan interaksi budaya sejak lama. Kehidupan masyarakatnya yang agraris berpadu dengan tradisi maritim, tercermin dari aktivitas pertanian dan perikanan sebagai mata pencaharian utama.

Di desa inilah Tari Lala mulai berkembang sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Tradisi gotong royong dan semangat kebersamaan menjadi fondasi penting dalam menjaga eksistensi tarian tersebut.

Pada tahun 1976, sebelas warga Maba tercatat telah menetap di Desa Limau dan menikah dengan penduduk setempat. Proses integrasi budaya pun berlangsung secara alami. Perkawinan antarbudaya ini melahirkan perpaduan unik antara tradisi Maba dan Galela, yang kemudian tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk seni tari.

Tari Lala menjadi salah satu hasil nyata dari proses akulturasi tersebut. Unsur gerakan, musik, hingga nilai simbolik dalam tarian mencerminkan perpaduan dua identitas budaya yang saling memperkaya.

Keturunan Maba-Galela di Desa Limau terus berkembang hingga kini. Mereka menjadi penjaga sekaligus penerus tradisi Tari Lala agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Perkembangan Tari Lala di Desa Limau juga diiringi kisah legenda yang romantis dan penuh makna. Konon, kisah cinta antara Bagindali, seorang kesatria Maba, dan Rohingya, gadis cantik dari pedalaman Galela, menjadi simbol persatuan dua budaya tersebut.

Cinta mereka diyakini abadi di antara keindahan Wato-wato dan Gunung Roni, dua lanskap alam yang menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat setempat. Legenda ini bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga metafora tentang harmoni, persatuan, dan integrasi budaya.

Dalam konteks Tari Lala, kisah Bagindali dan Rohingya memperkuat makna tarian sebagai simbol penyatuan. Ia bukan hanya seni pertunjukan, tetapi cerminan perjalanan sejarah dan pertemuan dua identitas yang akhirnya menjadi satu.

Hingga kini, Tari Lala tetap ditampilkan dalam berbagai acara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Halmahera Tengah maupun komunitas keturunan Maba-Galela di Galela.

Dalam setiap gerakannya, Tari Lala menghadirkan narasi tentang sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan. Ia menjadi medium untuk menyampaikan pesan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun harmoni.

Pelestarian Tari Lala menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah daerah, tokoh adat, maupun generasi muda. Dengan memperkenalkannya di panggung festival dan kegiatan budaya, eksistensi tarian ini dapat terus terjaga.

Di tengah arus modernisasi, banyak tradisi lokal yang mulai tergerus zaman. Namun, Tari Lala membuktikan bahwa warisan budaya dapat tetap hidup jika dirawat dengan cinta dan kesadaran kolektif.

Tari Lala bukan hanya tarian kehormatan. Ia adalah simbol sejarah panjang, perpaduan budaya Maba dan Galela, serta cerminan nilai religius dan sosial masyarakat Halmahera. Dari Desa Limau hingga Halmahera Tengah, jejak Tari Lala terus bergema, mengiringi perjalanan generasi demi generasi.

Bagi Anda yang berkesempatan mengunjungi Maluku Utara, menyaksikan Tari Lala secara langsung tentu menjadi pengalaman budaya yang berkesan. Di balik gerakannya yang anggun, tersimpan kisah cinta, sejarah migrasi, serta semangat persatuan yang menjadi fondasi kuat masyarakat setempat.

Tari Lala adalah bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan antarbudaya, sekaligus penjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU