Selasa, 17 MARET 2026 • 17:48 WIB

Menelusuri Jejak Kesultanan di Museum Sonyine Malige, Permata Sejarah di Tidore

Author

Jejak Kesultanan Tidore di Museum Sonyine Malige (Humas)

MALUKU - Pulau Tidore dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah Nusantara, khususnya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan maritim di Asia Tenggara. Dari pulau inilah lahir Kesultanan Tidore, salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah politik dan budaya kawasan timur.

Di tengah jejak sejarah tersebut, berdiri sebuah museum yang menjadi penjaga memori kolektif masyarakat Tidore, yakni Museum Sonyine Malige. Museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan refleksi tentang kejayaan masa lalu.

Museum Sonyine Malige didirikan pada tahun 1983 di Desa Soasio, sebuah kawasan yang memiliki nilai historis tinggi di Tidore. Nama “Sonyine Malige” sendiri berasal dari bahasa Tidore yang berarti “Tempat yang Indah”, mencerminkan tidak hanya keindahan fisik bangunan, tetapi juga kekayaan nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Pendirian museum ini dilatarbelakangi oleh kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah Kesultanan Tidore. Seiring berjalannya waktu, museum ini berkembang menjadi pusat edukasi bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan yang ingin memahami lebih dalam tentang identitas budaya Tidore.

Salah satu daya tarik utama Museum Sonyine Malige adalah arsitekturnya yang mengadopsi gaya rumah adat Tidore. Bangunan dua lantai ini dirancang dengan memperhatikan nilai-nilai tradisional, sehingga mencerminkan kearifan lokal yang masih dijaga hingga saat ini.

Detail arsitektur yang khas memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga merasakan atmosfer budaya yang kuat sejak pertama kali menginjakkan kaki di area museum. Lokasinya yang strategis di Desa Soasio juga memudahkan akses bagi wisatawan, baik lokal maupun luar daerah.

Sebagai museum yang berfokus pada sejarah Kesultanan Tidore, Museum Sonyine Malige menyimpan berbagai koleksi yang memiliki nilai historis tinggi. Setiap benda yang dipamerkan memiliki cerita yang menggambarkan kehidupan, kekuasaan, dan budaya masyarakat Tidore di masa lalu.

Salah satu koleksi paling menarik adalah mahkota Kesultanan Tidore yang terbuat dari emas. Keunikan mahkota ini terletak pada hiasan rambut yang dipercaya terus bertambah panjang. Dalam tradisi kerajaan, rambut tersebut dipotong secara berkala melalui ritual khusus yang sarat makna spiritual.

  1. Singgasana Raja
    Museum ini juga menyimpan singgasana yang digunakan oleh Sultan Tidore dalam berbagai upacara resmi. Singgasana ini menjadi simbol kekuasaan, kehormatan, dan legitimasi pemerintahan dalam sistem kerajaan.
  2. Pakaian Adat Kesultanan
    Beragam pakaian adat dipamerkan di museum ini, masing-masing mencerminkan status sosial dan peran individu dalam masyarakat. Setiap detail pakaian memiliki filosofi tersendiri, mulai dari warna hingga motif yang digunakan.
  3. Alat Perang Tradisional
    Koleksi alat perang seperti pedang, tombak, dan perisai menunjukkan bagaimana Kesultanan Tidore mempertahankan wilayahnya. Benda-benda ini menjadi bukti kekuatan militer sekaligus keberanian para prajurit kerajaan.
  4. Peralatan Rumah Tangga dan Kerajinan
    Selain koleksi kerajaan, museum ini juga menampilkan peralatan sehari-hari masyarakat serta berbagai kerajinan tangan. Koleksi ini menggambarkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tidore yang sederhana namun kaya akan nilai tradisi.

Keberadaan Museum Sonyine Malige memiliki peran strategis dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Sebagai lembaga pelestarian, museum ini menjaga berbagai benda bersejarah agar tetap terawat dan tidak hilang ditelan zaman. Di sisi lain, museum juga berfungsi sebagai pusat edukasi yang memberikan wawasan kepada generasi muda tentang sejarah dan budaya leluhur mereka.

Tidak hanya itu, museum ini juga menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik. Wisatawan yang datang ke Tidore dapat memperoleh pengalaman belajar yang mendalam, sekaligus menikmati keindahan budaya lokal.

Museum Sonyine Malige juga kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan budaya, seperti pameran, seminar, dan workshop. Kegiatan ini melibatkan masyarakat setempat dan menjadi ruang interaksi antara generasi tua dan muda dalam menjaga keberlanjutan budaya.

Untuk mencapai museum ini, pengunjung dapat memulai perjalanan dari Ternate menuju Tidore menggunakan transportasi laut. Setelah tiba, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Desa Soasio.

Lokasinya yang berada di pusat kawasan bersejarah menjadikan museum ini mudah diakses. Perjalanan menuju museum juga menawarkan pemandangan alam khas Maluku Utara yang memanjakan mata.

Museum Sonyine Malige beroperasi pada hari kerja, mulai Senin hingga Jumat, pukul 08.00 hingga 16.00 WIT. Dengan harga tiket yang relatif terjangkau, sekitar Rp5.000 per orang, museum ini menjadi destinasi yang ramah bagi semua kalangan.

Namun, pengunjung disarankan untuk tetap mengecek informasi terbaru sebelum berkunjung, mengingat kemungkinan adanya perubahan jam operasional maupun harga tiket.

Museum Sonyine Malige bukan hanya tempat untuk melihat benda-benda lama, tetapi juga ruang untuk memahami identitas dan perjalanan sejarah masyarakat Tidore. Setiap koleksi yang dipamerkan menjadi pengingat bahwa kejayaan masa lalu adalah bagian penting dari jati diri yang harus dijaga.

Di tengah modernisasi, museum ini hadir sebagai penjaga nilai-nilai tradisi dan budaya. Ia mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipelajari dan dijadikan pijakan dalam membangun masa depan.

Bagi siapa pun yang ingin menyelami lebih dalam tentang sejarah Kesultanan Tidore, mengunjungi Museum Sonyine Malige adalah pengalaman yang tak boleh dilewatkan. Di sinilah masa lalu, budaya, dan identitas berpadu dalam satu ruang yang penuh makna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Museumtidore.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU