Selasa, 21 OKTOBER 2025 • 19:36 WIB

Buru Expedition 2025 Finis, Tim Kayak Kelilingi Pulau Buru 29 Hari, Tuntaskan 404,2 Km

Author

Berposes usai penutupan Buru Expedition 2025. (dok istimewa)

MALUKU-Setelah menempuh perjalanan laut sejauh 404,2 kilometer selama 29 hari, Tim Kayak Dayung Jelajah Nusantara akhirnya menuntaskan misi mengelilingi pesisir Pulau Buru dalam rangkaian kegiatan Buru Expedition 2025

Sekretaris Umum Buru Expedition 2025, Jihan Syafira, menjelaskan, perjalanan sirkumnavigasi dimulai dari Pantai Jikumerasa pada 20 September 2025 dan berakhir di lokasi yang sama pada 19 Oktober 2025, pukul 11.00 WIT.

"Tepat di Pantai Jikumerasa, para pendayung resmi menuntaskan perjalanan setelah hampir sebulan menyusuri garis pantai Pulau Buru," ujarnya.

Baca juga: Kapolda Maluku Cek Kesiapan Patroli Respon Time, Siap Hadapi Kontijensi-Darurat Kemanusiaan

Tim yang terlibat terdiri dari lima pendayung, dua perempuan dan tiga laki-laki, dikenal sebagai Tim Segara, serta enam anggota Tim Nusa yang bertugas sebagai tim standby rescue.

Kedatangan tim disambut hangat di Pantai Jikumerasa oleh Asisten I Setda Kabupaten Buru, Nawawi Tinggapi, mewakili Bupati Buru.

Hadir pula Kepala Basarnas Ambon, Dandim 1506/Namlea, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buru, perwakilan BNN, Basarnas Namlea, dan sejumlah pejabat daerah.

Dalam sambutannya, Nawawi menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tim ekspedisi yang dinilai turut memperkaya literasi data kelautan dan kebudayaan Pulau Buru.

Kegiatan serimoni Buru Expedition 2025. (dok istimewa)

"Kami berterima kasih atas dedikasi Wanadri dan seluruh mitra yang telah membawa manfaat bagi masyarakat Buru," katanya. 

Salah satu pendayung perempuan asal Padang, Nia Anjelina (27), menuturkan bahwa ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin.

Baca juga: Apel Siaga Polda Maluku: Komitmen Jaga Stabilitas dan Dukung Program Nasional

"Selama 29 hari kami mendayung dan menyatu dengan laut. Pulau Buru mengajarkan arti kagum, lelah, dan cinta pada alam," ujarnya.

Senada dengan itu, Arjun (23), pendayung muda asal Buru yang ikut dalam ekspedisi, menggambarkan pengalaman tersebut sebagai pelajaran hidup.

"Kami belajar menghadapi ombak besar, kelelahan, dan cuaca ekstrem, tapi juga menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam di lautan Buru," katanya.

Selain kegiatan sirkumnavigasi, Buru Expedition 2025 juga meliputi sejumlah program sosial, penelitian, dan lingkungan seperti pendakian Gunung Kapalatmada, pemanjatan Tebing Kaku Mahu, operasi katarak, penanaman mangrove, program literasi dan pendidikan, serta pelatihan selam untuk perawatan terumbu karang.

Penaman mangrove dalam rangkaian Buru Expedition 2025. (dok istimewa)

Pada 18 Oktober 2025, tim penanaman mangrove menuntaskan tahap awal dengan menanam 4.000 bibit mangrove di Desa Kaki Air, Kecamatan Kayeli. 

Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Wanadri, PT Grab Teknologi Indonesia, dan Kodim 1506/Namlea. Kedatangan tim di desa tersebut disambut antusias oleh warga menggunakan sekitar 40 perahu bala-bala yang turut mengangkut bibit mangrove ke lokasi tanam. Kepala Desa Kaki Air, Rahmawati Dafrullah (53), menyampaikan rasa terima kasih kepada tim ekspedisi.

“Terima kasih banyak sudah datang dan menanam mangrove di desa kami,” ucapnya.

Ketua Program Pengembangan Pesisir Terpadu Wanadri, Achmad Jerry, menjelaskan bahwa penanaman mangrove bukan hanya untuk mencegah abrasi, tetapi juga meningkatkan potensi wisata dan memperbaiki kualitas air.

Baca juga: Athan Australia-Kodam Pattimura Bahas Rencana Latihan Bersama di Morotai Maluku Utara

"Kami berharap mangrove dapat berperan dalam proses fitoremediasi terhadap bahan cemaran tambang seperti merkuri yang mengancam perairan," harapnya.

Sementara itu, kegiatan Pelatihan Selam untuk Perawatan Terumbu Karang dijadwalkan berlangsung pada 20 - 26 Oktober 2025 dan melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang. 

Program ini diharapkan melahirkan tim lokal yang mampu menjaga dan merawat ekosistem bawah laut di pesisir Buru.

Buru Expedition merupakan kolaborasi besar yang melibatkan Wanadri, Mahatva, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), PERDAMI, BASARNAS, TNI AU, TNI AD, Kodam XVI/Pattimura, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Buru dan Buru Selatan, Universitas Iqra Buru, serta berbagai lembaga masyarakat, tokoh adat, pemuda lokal, dan mitra swasta. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU