Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 28 FEBRUARI 2026 • 09:57 WIB

Mengenal Tradisi Pukul Manyapu, Warisan Unik Lebaran dari Maluku

Mengenal Tradisi Pukul Manyapu, Warisan Unik Lebaran dari MalukuTradisi Pukul Manyapu (FB/@Ambon Gallery)

MALUKU - Hari Raya Idulfitri di Maluku bukan hanya tentang salat Id dan silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum pelestarian budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Selain tradisi umum seperti halal bihalal dan ziarah kubur, ada satu tradisi yang terbilang unik, bahkan ekstrem, yang hanya bisa ditemukan di wilayah tertentu Maluku.

Tradisi tersebut adalah Pukul Manyapu, sebuah ritual adat yang digelar setiap 7 Syawal atau hari ketujuh setelah Lebaran. Tradisi ini berlangsung di Desa Morela dan Desa Mamala, Kabupaten Maluku Tengah, dan telah ada sejak abad ke-16.

Meski terlihat menyeramkan karena melibatkan aksi saling pukul, tradisi ini sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat setempat.

Seperti daerah lain di Indonesia, masyarakat Maluku menyambut Lebaran dengan berbagai persiapan. Menjelang Idulfitri, warga mulai membersihkan rumah, memperbaiki pagar, hingga mengecat ulang bangunan agar tampak rapi dan indah saat hari raya tiba.

Di beberapa desa, masyarakat juga menggelar doa bersama dan tadarus Al-Qur’an secara kolektif. Tradisi ziarah kubur biasanya dilakukan sehari atau dua hari sebelum Lebaran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Suasana kekeluargaan begitu terasa. Warga yang merantau umumnya pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga besar. Momentum ini menjadi ajang mempererat hubungan kekeluargaan yang mungkin jarang terjalin karena jarak dan kesibukan.

Pada hari H, masyarakat Maluku melaksanakan salat Id berjamaah di masjid atau lapangan terbuka. Setelah itu, tradisi saling berkunjung dan meminta maaf menjadi agenda utama.

Anak-anak mengenakan pakaian terbaiknya, sementara orang dewasa menyambut tamu dengan aneka hidangan khas Lebaran. Tidak jarang suasana silaturahmi berlangsung hingga malam hari.

Namun, perayaan Idulfitri di Maluku tidak berhenti pada tanggal 1 Syawal. Di beberapa wilayah, perayaan berlanjut hingga hari ketujuh, yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat atau Lebaran Tujuh. Di sinilah salah satu tradisi paling unik digelar.

Pukul Manyapu merupakan tradisi adat yang diikuti masyarakat Desa Morela dan Desa Mamala di Maluku Tengah. Ritual ini digelar setiap 7 Syawal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran.

Sekilas, tradisi ini terlihat ekstrem karena melibatkan dua kelompok pria yang saling memukul menggunakan lidi aren atau pelepah enau. Meski demikian, kegiatan ini dilakukan dengan aturan adat yang ketat dan dalam suasana penuh semangat persaudaraan.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-16 dan diyakini diinisiasi oleh seorang tokoh masyarakat bernama Imam Tuni. Kisah asal-usulnya sangat melegenda di Maluku.

Konon, ketika masyarakat hendak menyambung tiang masjid, mereka menggunakan minyak dari Desa Mamala. Minyak tersebut dipercaya memiliki khasiat luar biasa, termasuk menyembuhkan luka. Untuk membuktikan khasiatnya, dilakukanlah percobaan dengan saling memukul menggunakan lidi. Luka yang timbul kemudian diolesi minyak tersebut dan dipercaya cepat sembuh.

Sejak saat itu, ritual baku pukul manyapu terus dipertahankan sebagai simbol kepercayaan terhadap khasiat minyak Mamala sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah desa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ambon Gallery

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Tradisi Pukul Manyapu, Warisan Unik Lebaran dari Maluku

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!