Asal nama Seram dari Selan Siran
MALUKU – Nama Pulau Seram yang kini dikenal sebagai salah satu pulau terbesar di Provinsi Maluku ternyata menyimpan kisah unik dari masa lalu. Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, asal-usul nama “Seram” tidak terlepas dari interaksi sederhana antara penduduk lokal dan para pedagang dari luar daerah.
Legenda ini masih hidup dan diceritakan secara turun-temurun, khususnya oleh masyarakat di wilayah Seram Timur.
Kisah bermula dari seorang lelaki tua yang tinggal di wilayah timur Pulau Seram, tepatnya di daerah yang kini dikenal sebagai Gesser. Ia hidup sederhana dengan mengandalkan hasil hutan seperti rotan dan kayu sebagai sumber mata pencaharian.
Suatu hari, seperti kebiasaannya, lelaki tua itu turun ke pantai untuk melakukan barter dengan para pedagang dari luar pulau. Pada masa itu, sistem perdagangan memang masih menggunakan cara tukar-menukar barang.
Hasil hutan yang dibawanya ditukar dengan berbagai barang dari luar, seperti kain batik, piring-piring besar yang dikenal sebagai “piring batu”, hingga alat musik tradisional seperti gong atau gamelan yang digunakan dalam upacara adat.
Namun, interaksi antara lelaki tua tersebut dengan para pedagang tidak berjalan mulus. Perbedaan bahasa membuat mereka kesulitan berkomunikasi secara langsung.
Karena tidak saling memahami, para pedagang akhirnya menyebut lelaki tua itu dengan panggilan “Selan” atau “Siran”. Sebaliknya, lelaki tua tersebut menyebut para pedagang sebagai “batih” atau “batik”, kemungkinan karena mereka mengenakan kain batik yang identik dengan daerah Pulau Jawa.
Meskipun terbatas, komunikasi tetap berlangsung dengan menggunakan sebutan-sebutan tersebut.
Seiring waktu, interaksi perdagangan tidak hanya dilakukan oleh lelaki tua itu saja. Penduduk sekitar pun mulai ikut terlibat dalam aktivitas barter dengan para pedagang luar.
Menariknya, sebutan “Selan” atau “Siran” yang awalnya hanya digunakan untuk memanggil satu orang, kemudian berkembang menjadi istilah umum yang digunakan untuk menyebut masyarakat setempat.
Penggunaan kata tersebut semakin meluas dan populer di kalangan penduduk maupun pedagang. Hingga akhirnya, melalui perubahan dialek dan kebiasaan tutur masyarakat, kata “Selan” atau “Siran” perlahan berubah menjadi “Seram”.
Legenda ini menunjukkan bahwa nama sebuah wilayah tidak selalu berasal dari peristiwa besar atau tokoh penting, tetapi juga bisa lahir dari interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalahpahaman bahasa yang terjadi antara penduduk lokal dan pedagang justru melahirkan identitas baru yang kini dikenal luas sebagai Pulau Seram.
Hingga kini, kisah asal-usul nama Pulau Seram tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya lisan masyarakat Maluku. Cerita ini tidak hanya menjelaskan sejarah penamaan, tetapi juga menggambarkan hubungan awal antara masyarakat lokal dengan dunia luar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mitos-Mitos Berlatar Belakang Sejarah