MALUKU - Di lereng Gunung Gamalama, terdapat sebuah kompleks makam yang tak pernah sepi pengunjung. Terletak di Desa Foramadiahi, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Ternate, Maluku Utara, Makam Sultan Baabullah menjadi salah satu penanda penting sejarah perlawanan Nusantara terhadap kolonialisme. Di sinilah bersemayam Sultan Baabullah, sosok penguasa besar yang namanya dikenang sebagai “Penguasa 72 Pulau”.
Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung harus menempuh perjalanan darat menyusuri jalan berkelok dengan panorama alam khas Ternate. Perjalanan tersebut seolah menjadi pengantar menuju masa lalu, membawa siapa pun yang datang untuk menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Ternate pada abad ke-16. Meski berada di kawasan pegunungan, akses menuju makam tergolong mudah dan dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun ojek.
Secara fisik, makam Sultan Baabullah tampak sederhana. Tidak ada bangunan megah atau ornamen berlebihan. Namun justru kesederhanaan inilah yang menegaskan nilai spiritual dan historis yang melekat kuat di tempat tersebut. Kompleks makam dikelilingi pepohonan rindang yang menciptakan suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di area makam, terdapat nisan khas Islam dengan sentuhan ukiran tradisional Ternate. Nuansa religius terasa kental, sejalan dengan peran Sultan Baabullah sebagai tokoh penting dalam penyebaran dan penguatan Islam di Maluku. Setiap sudut makam mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap pemimpin yang bukan hanya berkuasa, tetapi juga dicintai rakyatnya.
Hingga kini, makam Sultan Baabullah rutin diziarahi oleh masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Ziarah dilakukan bukan semata untuk mengenang sosok Sultan Baabullah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya mempertahankan kedaulatan tanah Maluku dari penjajahan asing.
Keberadaan makam ini tidak terlepas dari peran masyarakat adat setempat. Warga Desa Foramadiahi turut menjaga kebersihan, kelestarian, dan kesakralan kompleks makam. Bagi mereka, makam Sultan Baabullah bukan sekadar situs sejarah, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif.
Tradisi menjaga makam secara turun-temurun menjadi bukti bahwa ingatan terhadap Sultan Baabullah masih hidup dalam kesadaran masyarakat Ternate. Ia bukan hanya tokoh dalam buku sejarah, tetapi figur nyata yang warisannya masih dirasakan hingga hari ini.
Sultan Baabullah lahir pada tahun 1528 sebagai putra Sultan Khairun, penguasa Ternate yang dikenal gigih menentang dominasi Portugis di Maluku. Sejak muda, Baabullah tumbuh dalam lingkungan istana yang sarat dengan dinamika politik dan tekanan kolonial. Kehadiran bangsa Eropa, khususnya Portugis, telah mengubah peta kekuasaan dan perdagangan rempah di Maluku.
Tragedi besar terjadi pada tahun 1570 ketika Sultan Khairun dibunuh secara licik oleh Portugis dalam sebuah perundingan. Peristiwa ini mengguncang Kesultanan Ternate dan meninggalkan luka mendalam bagi Baabullah. Namun dari duka itulah lahir tekad kuat untuk melawan.
Baabullah kemudian diangkat menjadi Sultan Ternate. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengonsolidasikan kekuatan dan mempersiapkan perlawanan besar-besaran terhadap Portugis yang telah lama menancapkan pengaruh di wilayah Maluku.
Salah satu pencapaian terbesar Sultan Baabullah adalah keberhasilannya mengusir Portugis dari Ternate. Selama bertahun-tahun, Portugis menguasai Benteng Santo Paulo dan menjadikannya pusat kekuatan militer serta perdagangan rempah. Di bawah kepemimpinan Baabullah, perlawanan rakyat Ternate semakin terorganisir.
Pada tahun 1575, setelah melalui berbagai strategi perang dan pengepungan panjang, Portugis akhirnya dipaksa meninggalkan Benteng Santo Paulo. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Nusantara, karena Sultan Baabullah tercatat sebagai salah satu penguasa lokal pertama yang berhasil mengusir bangsa Eropa dari wilayah kekuasaannya.
Kemenangan tersebut tidak hanya memulihkan kedaulatan Ternate, tetapi juga mengangkat posisi Baabullah sebagai simbol perlawanan anti-kolonial di kawasan timur Nusantara.
Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya meluas hingga mencakup pulau-pulau di Maluku, Sulawesi bagian utara, Ambon, bahkan mencapai Mindanao di Filipina selatan. Luasnya pengaruh inilah yang membuat Baabullah dijuluki sebagai “Penguasa 72 Pulau”.
Ternate berkembang menjadi kekuatan maritim yang disegani. Armada laut diperkuat, jalur perdagangan dikuasai, dan hubungan antarwilayah dijalin dengan cermat. Kejayaan ini menjadikan Ternate sebagai pusat politik dan ekonomi penting di kawasan timur Nusantara pada abad ke-16.
Selain dikenal sebagai pemimpin militer yang tangguh, Sultan Baabullah juga piawai dalam diplomasi. Ia menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan di Nusantara, termasuk Kesultanan Aceh, untuk memperkuat posisi politik dan menghadapi ancaman kolonial.
Tidak hanya itu, Baabullah juga membuka komunikasi dengan dunia Islam internasional, termasuk Kesultanan Turki Utsmani. Hubungan ini menunjukkan bahwa Ternate bukan kerajaan kecil yang terisolasi, melainkan bagian dari jaringan politik dan keagamaan global pada masanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, Islam semakin mengakar kuat di Maluku. Ia mendukung penyebaran ajaran Islam melalui institusi kesultanan, ulama, dan jaringan perdagangan. Islam tidak hanya menjadi agama, tetapi juga fondasi nilai sosial dan politik masyarakat Ternate.
Peran inilah yang membuat Sultan Baabullah dikenang bukan hanya sebagai penguasa, tetapi juga sebagai pemimpin spiritual yang berpengaruh dalam membentuk identitas keislaman Maluku.
Sultan Baabullah wafat pada tahun 1583 dan dimakamkan di Foramadiahi, tempat yang kini menjadi saksi bisu kejayaan dan perjuangannya. Meski telah berabad-abad berlalu, namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Maluku dan sejarah Indonesia.
Makam Sultan Baabullah bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang raja. Ia adalah simbol keberanian, kedaulatan, dan harga diri bangsa. Di tengah sunyi lereng Gamalama, makam itu terus mengingatkan bahwa Nusantara pernah melahirkan pemimpin besar yang mampu berdiri sejajar dan bahkan mengalahkan kekuatan kolonial dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wonderful.ternatekota.go.id