Minggu, 01 MARET 2026 • 12:26 WIB

Papeda dan Ikan Kuah Kuning: Kuliner Ikonik Ambon yang Wajib Dicoba Wisatawan

Author

Papeda dan Ikan Kuah Kuning (Fidmas)

MALUKU - Maluku bukan hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memesona, tetapi juga dengan kekayaan kuliner tradisional yang menggugah selera. Salah satu hidangan yang paling ikonik dan selalu direkomendasikan bagi wisatawan yang berkunjung ke Ambon adalah Papeda dan Ikan Kuah Kuning. Perpaduan antara papeda yang kenyal dengan kuah kuning beraroma rempah serta ikan kakap segar menciptakan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Bagi masyarakat Maluku, papeda bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Hidangan ini menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan alam, khususnya pohon sagu yang menjadi sumber pangan utama di wilayah timur Indonesia.

Sekilas, papeda tampak seperti bubur dengan tekstur lengket dan transparan. Terbuat dari tepung sagu yang diseduh air panas, papeda memiliki konsistensi kental dan elastis. Saat diangkat menggunakan sumpit atau alat khusus, papeda akan memanjang dan tampak seperti benang-benang kenyal.

Tekstur inilah yang menjadi ciri khas papeda. Bagi yang belum terbiasa, sensasi kenyal dan lengketnya mungkin terasa unik. Namun setelah dicicipi bersama kuah ikan, perpaduan rasa dan teksturnya justru terasa harmonis.

Papeda sendiri memiliki rasa yang cenderung tawar. Justru karena itulah ia menjadi pasangan sempurna untuk hidangan berkuah kaya rempah seperti ikan kuah kuning. Rasa gurih dan segar dari kuah akan meresap dan menyatu dengan papeda, menciptakan sensasi rasa yang seimbang di setiap suapan.

Jika papeda adalah bintang dengan tekstur uniknya, maka ikan kuah kuning adalah jiwa dari hidangan ini. Kuah berwarna kuning cerah berasal dari campuran rempah-rempah khas Indonesia, seperti kunyit, serai, daun jeruk, dan berbagai bumbu lainnya.

Aroma rempah yang harum langsung tercium begitu kuah disajikan. Warna kuningnya yang menggoda berpadu dengan potongan ikan kakap segar yang dimasak hingga matang sempurna. Ikan kakap dipilih karena teksturnya yang lembut namun tetap padat, serta rasanya yang manis alami.

Kuahnya memiliki cita rasa gurih, sedikit asam, dan hangat di tenggorokan. Sensasi ini membuat siapa pun yang melihat dan mencium aromanya langsung tergoda untuk mencicipi. Tak heran jika papeda dan ikan kuah kuning menjadi menu yang sangat direkomendasikan bagi wisatawan yang datang ke Ambon.

Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Ambon menjadi pintu gerbang bagi wisatawan yang ingin menjelajahi pesona timur Indonesia. Selain panorama pantai dan laut yang indah, Ambon juga menawarkan pengalaman kuliner autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.

Papeda dan ikan kuah kuning hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi kuliner wajib coba. Banyak rumah makan tradisional hingga restoran modern di Ambon yang menyajikan hidangan ini dengan resep turun-temurun.

Menikmati papeda biasanya dilakukan dengan cara khusus. Papeda diambil menggunakan dua batang sumpit atau garpu kayu, lalu diputar hingga menggulung dan langsung dicelupkan ke dalam kuah ikan. Cara makan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan, karena berbeda dari kebiasaan menyantap nasi atau bubur pada umumnya.

Di balik kelezatannya, papeda dan ikan kuah kuning menyimpan nilai budaya yang mendalam. Sagu sebagai bahan dasar papeda merupakan sumber karbohidrat utama masyarakat Maluku sejak zaman dahulu. Pohon sagu tumbuh subur di wilayah rawa dan menjadi simbol ketahanan pangan lokal.

Hidangan ini juga sering hadir dalam berbagai acara adat, pertemuan keluarga, hingga jamuan untuk tamu penting. Kehadirannya mencerminkan keramahan dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan kuliner mereka.

Papeda mengajarkan tentang kesederhanaan, sementara ikan kuah kuning menunjukkan kekayaan rempah Nusantara. Keduanya berpadu menjadi representasi harmoni antara alam dan budaya.

Bayangkan sepiring papeda hangat yang masih mengepul, disandingkan dengan semangkuk ikan kuah kuning beraroma rempah. Saat papeda yang kenyal menyentuh kuah yang gurih dan segar, rasa tawarnya langsung berubah menjadi nikmat.

Potongan ikan kakap yang lembut menambah tekstur dan rasa dalam setiap suapan. Rempah-rempah yang digunakan tidak hanya memberikan warna kuning cerah, tetapi juga lapisan rasa yang kompleks—mulai dari gurih, segar, hingga sedikit pedas.

Tak heran jika banyak wisatawan yang awalnya ragu mencoba papeda, akhirnya justru jatuh cinta setelah suapan pertama. Sensasi makan yang berbeda dan cita rasa autentik membuat hidangan ini sulit dilupakan.

Di tengah tren eksplorasi kuliner tradisional Indonesia, papeda dan ikan kuah kuning memiliki potensi besar untuk semakin dikenal luas. Keunikan tekstur papeda serta kekayaan rasa kuah kuning menjadi daya tarik tersendiri di mata pecinta kuliner.

Promosi melalui festival kuliner, media sosial, hingga program pariwisata dapat membantu memperkenalkan hidangan ini ke kancah nasional bahkan internasional. Apalagi, dunia kini semakin tertarik pada makanan berbasis bahan alami dan tradisional seperti sagu.

Dengan pengemasan dan penyajian yang menarik tanpa menghilangkan keaslian resepnya, papeda dan ikan kuah kuning bisa menjadi ikon kuliner Indonesia Timur yang mendunia.

Berkunjung ke Ambon tanpa mencicipi papeda dan ikan kuah kuning rasanya belum lengkap. Hidangan ini bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga membuka wawasan tentang kekayaan budaya Maluku.

Dari kenyalnya papeda hingga harum kuah kuning yang kaya rempah, setiap elemen menyatu menciptakan pengalaman kuliner yang autentik. Lebih dari sekadar makanan, papeda dan ikan kuah kuning adalah cerita tentang tradisi, alam, dan kebersamaan masyarakat Maluku.

Jadi, jika kamu berencana menjelajahi pesona Ambon, pastikan untuk menyempatkan diri menikmati hidangan legendaris ini. Karena dalam setiap suapan papeda dan ikan kuah kuning, tersimpan cita rasa dan sejarah panjang yang siap menggoda siapa saja yang mencicipinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dispar.malukuprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU