Minggu, 01 FEBRUARI 2026 • 09:18 WIB

Masjid Wapauwe: Jejak Tujuh Abad Sejarah Islam di Jazirah Leihitu, Maluku

Author

Masjid Wapauwe (kataomed (Edi M Yamin))

MALUKU - Di tengah hamparan alam Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan kisah panjang perjalanan Islam di wilayah timur Nusantara. Bangunan itu adalah Masjid Wapauwe, sebuah masjid tua yang hingga kini masih berdiri kokoh dan berfungsi sebagai tempat ibadah. Terletak di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Masjid Wapauwe bukan sekadar rumah ibadah, melainkan saksi bisu sejarah Islam yang telah berusia lebih dari tujuh abad.

Masjid Wapauwe diyakini pertama kali dibangun pada tahun 1414 Masehi, menjadikannya sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia. Usia panjang ini menunjukkan bahwa Islam telah hadir dan berkembang di wilayah Maluku jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Keberadaan masjid ini menjadi bukti kuat bahwa Jazirah Leihitu merupakan salah satu pusat awal penyebaran Islam di Kepulauan Maluku.

Menariknya, sebelum kedatangan tokoh-tokoh penyebar Islam lokal seperti Kyai Pati dan Jamilu ke tanah Hitu, masyarakat Jazirah Leihitu telah lebih dahulu memeluk agama Islam. Islam diperkenalkan oleh seorang ulama Arab yang datang melalui jalur perdagangan dan dakwah maritim. Hal ini memperkuat pandangan bahwa proses islamisasi di Maluku berlangsung secara damai, melalui interaksi budaya dan perdagangan antarbangsa, khususnya dengan para pedagang dari Arab dan wilayah sekitarnya.

Baca juga: Tak Cuma Urusan Administrasi, Kemenkum Bekali ASN Pemahaman KUHAP 2025

Pada masa awal pendiriannya, Masjid Wapauwe tidak berdiri di lokasi seperti sekarang. Masjid ini awalnya dibangun di tengah-tengah Gunung Wawane, sebuah kawasan yang dianggap aman dan strategis pada masa itu. Lokasi tersebut dipilih karena relatif terlindung dan jauh dari ancaman pihak luar. Masjid berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan agama dan kegiatan sosial masyarakat Muslim setempat.

Namun, situasi berubah drastis pada awal abad ke-17, ketika kekuasaan kolonial Belanda mulai menguasai sebagian besar wilayah Maluku, termasuk dataran Hitu. Kehadiran penjajah membawa ancaman serius bagi keselamatan masyarakat dan simbol-simbol keagamaan setempat. Pada tahun 1614, demi menjaga keamanan dan keberlangsungan masjid, masyarakat memutuskan untuk memindahkan Masjid Wapauwe dari Gunung Wawane ke wilayah yang lebih aman.

Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke Kampung Tehala, sekitar enam kilometer ke arah timur dari Gunung Wawane. Wilayah ini dikenal sebagai daerah yang banyak ditumbuhi pepohonan mangga. Dalam bahasa lokal masyarakat Kaitetu, kata wapauwe berarti “dibangun di bawah pohon mangga”. Dari sinilah nama Masjid Wapauwe berasal dan digunakan hingga sekarang. Perpindahan ini menjadi simbol kecerdikan dan keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan spiritual mereka di tengah tekanan kolonial.

Secara arsitektur, Masjid Wapauwe memiliki ciri khas yang membedakannya dari masjid-masjid modern. Bangunannya terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu dan daun rumbia, tanpa menggunakan paku besi. Atapnya berbentuk tumpang dan ditopang oleh tiang-tiang kayu besar yang masih asli sejak ratusan tahun lalu. Kesederhanaan bangunan ini justru mencerminkan nilai spiritual yang kuat dan kedekatan masyarakat dengan alam.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Regulasi Daerah, Kemenkum Maluku Ikut Supervisi Harmonisasi Nasional

Hingga kini, Masjid Wapauwe masih mempertahankan banyak bagian aslinya. Mimbar, tiang utama, serta struktur bangunan sebagian besar belum mengalami perubahan signifikan. Hal ini menjadikan masjid tersebut sebagai salah satu situs cagar budaya yang sangat berharga, tidak hanya bagi masyarakat Maluku, tetapi juga bagi sejarah Islam di Indonesia secara keseluruhan.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Wapauwe juga memiliki fungsi sosial dan budaya yang penting. Masjid ini menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, seperti peringatan hari besar Islam, pengajian, serta tradisi-tradisi keagamaan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keberadaannya memperkuat identitas Islam masyarakat Jazirah Leihitu sekaligus menjadi simbol keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman.

Masjid Wapauwe juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang menarik. Banyak wisatawan, peneliti, dan peziarah datang untuk melihat langsung bangunan bersejarah ini dan mempelajari kisah panjang perjalanan Islam di Maluku. Kehadiran masjid ini memberikan pengalaman spiritual sekaligus edukatif, terutama bagi generasi muda yang ingin mengenal akar sejarah bangsanya.

Lebih dari sekadar bangunan tua, Masjid Wapauwe adalah simbol keteguhan iman, kearifan lokal, dan daya tahan budaya masyarakat Maluku. Selama lebih dari tujuh abad, masjid ini telah melewati berbagai fase sejarah mulai dari masa awal islamisasi, ancaman kolonialisme, hingga era modern saat ini. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui jalan damai, dialog budaya, dan kebersamaan.

Dengan segala nilai sejarah dan spiritual yang dimilikinya, Masjid Wapauwe layak dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Bukan hanya milik masyarakat Kaitetu atau Maluku Tengah, tetapi juga bagian penting dari mozaik sejarah Islam Indonesia. Di bawah rindangnya pohon mangga, Masjid Wapauwe terus berdiri, menyimpan kisah masa lalu sekaligus menerangi perjalanan masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Referensi.data.kemendikdasmen.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU