MALUKU-Awan hitam menjuntai di atas badan laut Pulau Ay, Kecamatan Banda, Maluku Tengah, suatu sore pertengahan Desember 2025. Bentuknya horizontal, serupa ombak raksasa—diiringi embusan angin muson barat dan hujan deras. Pemandangan ini, tidak lazim bagi Ayu.
Raut wajah mahasiswi Universitas Indonesia (UI) itu, tampak gusar. Ekspresinya datar kala melihat ombak silih berganti menghantam tembok talud.
Ayu pun beranjak dari halte pelabuhan rakyat setelah melihat ombak yang berkecamuk. Kemudian menuju sebuah rumah warga berjarak sepelemparan batu, menyantap bakso.
Saat itu, dia bersama Salsa, seniornya dari Departemen Geografi FMIPA UI. Di tengah mencicipi kudapan, Ayu berharap cuaca buruk segera reda.
“Tidak berombak lagi, supaya bisa segera kembali ke Naira,” ujarnya, Rabu, 17 Desember 2025.
Salsa pun mengamini harapan Ayu itu sambil bergumam.”Karena kita harus melanjutkan perjalanan lagi ke Pulau Rhun dan pulau-pulau lain.” Keduanya rupanya tengah meniliti ritual masyarakat adat di Kepulauan Banda. Salah satu objek yang didata dan dikaji adalah buka kampung.
Meski begitu, Ayu dan Salsa menyadari keinginan tersebut seakan sukar terwujud saat Desember. Sebab di bulan ini pula, Kepulauan Banda dengan iklim muson tropis unimodal sedang pancaroba—muson barat ke timur—terjadi angin kencang, hujan dan gelombang tinggi.
Menukil Buku Saku Klimitologi BMKG, tipe unimodal disebut hanya memiliki satu puncak musim hujan. Desember, Januari hingga Februari masa penghujan. Sedangkan Juni, Juli hingga Agustus kemarau.
Namun Subuh Sidek bilang cuaca buruk hanya terjadi hari ini. Besoknya, laut akan teduh.
Klaim pria 45 tahun itu setelah melihat kemunculan gugusan Pulau Seram selepas hujan. Kepercayaan mengamati tanda alam dan perilaku hewan atau nanaku telah dipraktikan turun-temurun di Negeri Administratif Pulau Ay. Hasil prakiraannya pun dianggap akurat.
“Kan, sekarang lagi musim ombak. Tetapi kalau Pulau Seram terlihat pertama kali pada Desember, laut teduh,” ungkap Subuh turut didengarkan Ayu dan Salsa.
“Beda lagi kalau Pulau Seram terlihat kedua kalinya, pertanda laut akan berombak.” Rutinitas sehari-hari Subuh pekebun plus nelayan.
Sebelum melaut, dia biasanya melakukan nanaku meski ponselnya tersemat aplikasi visualisasi prakiraan cuaca. Misalnya, mengamati perilaku makhluk hidup seperti burung darah laut.
Bila burung terbang rendah, mendekati badan laut pertanda embusan angin lagi kuat. Ada pula awan bergaris dua hitam, satunya tidak terlihat berarti alarm cuaca buruk. Nanaku lain, kalau hujan hari Jumat, pertanda hujan mengguyur sepekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Mendalam