Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 31 MARET 2026 • 12:24 WIB

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis Iklim

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis IklimSeorang wanita tengah mengepul Pala Banda yang jatuh di perkebunan pala Pulau Ay, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. (Muhammad/Indozone)

MALUKU-Kerutan usia tampak jelas di wajah Halid Bugal. Napasnya tak beraturan ketika bercerita, hasil panen yang seret. Pria 75 tahun itu, sedih karena Pala Banda di kebunnya kini mudah busuk dan rontok.

“Hujan sering turun bikin pala gampang rusak,” ujar Halid saat ditemui, pertengahan Desember 2025.

Pohon pala di kebunnya berusia di atas 25 tahun, peninggalan masa kolonial. Sebagian lagi berumur 10 tahun, batangnya menjulang tinggi dan harusnya pada fase produktif. 

Namun hujan tanpa henti disertai angin kencang menerpa Negeri Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, merusak buah pala dan menggugurkan bunga. Bahkan buah Myristica fragrans berukuran besar, kondisinya kempes.

“Buah pala tar (tidak) bulat, kualitasnya juga turun karena kempes,” ungkapnya.

Baca juga: Nanaku: Alarm Mitigasi Lokal di Tengah Krisis Iklim Kepulauan Banda

Ia bilang kondisi biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat serta tidak lonjong. Usai dikeringkan, jika digoyang terdengar gemerincing.

“Kondisi biji sekarang sebagian begitu, bisa dianggap sudah sulit dapat super.” 

Tak heran, harga biji pala di pasaran juga mengikuti kualitas panen, berkisar antara Rp161 ribu-Rp 300 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, fuli atau bunga pala Rp 250 ribu per Kg.

Sudianto Bugal, kerabat Halid, mengeluhkan hal serupa. Ia menyebut sejak 2024, curah hujan dominan menyebabkan hasil panen seret saat harga pala melambung.

Herman Rehatta, pakar budidaya pertanian turut membenarkan uraian Sudianto. Di 2024 pula, ia meneliti pala di Pulau Banda Besar, Ay dan Naira. 

Mayoritas petani pala, mengeluhkan pergantian musim panas dan hujan makin tidak jelas. Keadaan tersebut, dampak dari krisis iklim yang merubah siklus alami iklim dan pola curah hujan. 

Dampak lain, suhu permukaan laut meningkat—mempengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Pada gilirannya, mengubah pola curah hujan.

“Kondisi itu jadi tantangan serius terutama pertanian karena mempengaruhi panen,” jelas dosen pensiunan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Mendalam

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis Iklim

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!