Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 14 APRIL 2026 • 23:18 WIB

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis Iklim

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis IklimSeorang wanita tengah mengambil Pala Banda yang gugur di tanah di perkebunan Kebun Pulau Ay, Kecamatan Banda, Maluku Tengah.(Muhammad/Indozone)

MALUKUKerutan usia tampak jelas di wajah Halid Bugal. Napasnya tak beraturan ketika bercerita, hasil panen yang seret. Pria 75 tahun itu, sedih karena Pala Banda di kebunnya kini mudah busuk dan rontok. 

“Hujan sering turun bikin pala gampang rusak,” ujar Halid saat ditemui, pertengahan Desember 2025.

Pohon pala di kebunnya berusia di atas 25 hingga 40 tahun, peninggalan masa kolonial. Sebagian lagi berumur 10 tahun, batangnya menjulang tinggi dan harusnya pada fase produktif. 

Baca juga: Nanaku: Alarm Mitigasi Lokal di Tengah Krisis Iklim Kepulauan Banda

Namun hujan tanpa henti disertai angin kencang menerpa Negeri Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, merusak buah pala dan gugur bunga. Bahkan buah Myristica fragrans berukuran besar, kondisinya kempes.

“Buah pala tar (tidak) bulat, kualitasnya juga turun karena kempes,” ungkapanya.

Halid bilang kondisi biji pala berkerut, bobot ringan dan bentuknya cacat serta tidak lonjong. Usai dikeringkan, jika digoyang terdengar gemerincing.

“Kondisi biji sekarang begitu, kini bisa dibilang dapatkan biji yang super sudah sulit.”

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis IklimBuah Pala Banda tampak mulai mengerut yang masih tergantung di dahan pohon. (Muhammad/Indozone)

Tak heran, harga biji pala di pasaran juga mengikuti kualitas panen, berkisar antara Rp161 ribu-Rp 300 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, fuli atau bunga pala Rp 250 ribu per Kg. 

Sudianto Bugal, kerabat Halid, mengeluhkan hal serupa. Ia menyebut sejak 2024, curah hujan dominan menyebabkan hasil panen seret saat harga pala melambung.

Herman Rehatta, pakar budidaya pertanian turut membenarkan uraian Sudianto. Di 2024 pula, ia meneliti pala di Pulau Banda Besar, Ay dan Naira. 

Mayoritas petani pala, mengeluhkan pergantian musim panas dan hujan makin tidak jelas. Keadaaan tersebut, dampak dari krisis iklim yang turut merubah siklus alami iklim dan pola curah hujan. 

Dampak lain, suhu permukaan laut meningkat—mempengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Pada gilirannya, mengubah pola curah hujan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Mendalam

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Budidaya Intensif dan Nanaku, Solusi Petani Pala Banda Hadapi Krisis Iklim

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!