Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 30 JANUARI 2026 • 10:28 WIB

Makan Patita Jadi Simbol Rekonsiliasi, Gubernur Maluku Tegaskan Perdamaian Negeri Liang

Makan Patita Jadi Simbol Rekonsiliasi, Gubernur Maluku Tegaskan Perdamaian Negeri LiangKegiatan Makan Patita bersama warga Negeri Liang (Diskominfo Maluku)

MALUKU - Gubernur Maluku turut hadir dalam kegiatan Makan Patita bersama warga Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (29/1/2026). Kehadiran tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam merawat rekonsiliasi dan memperkuat perdamaian antarsesama anak negeri pascaperistiwa konflik.

Pelaksanaan Makan Patita kali ini sarat dengan makna adat sebagai penanda perdamaian. Ritual tersebut diawali dengan penyembelihan seekor kambing yang dimaknai sebagai sumpah adat seluruh masyarakat Negeri Liang. Ikrar itu menjadi janji bersama agar konflik yang pernah terjadi tidak kembali terulang, dengan keyakinan bahwa setiap pelanggaran akan berhadapan dengan sanksi adat dan konsekuensi moral dari leluhur.

Baca juga: Wagub Maluku Dorong UU Kepulauan Demi Keadilan Fiskal dan Kedaulatan Maritim

Dalam sambutannya, Gubernur Maluku menilai kegiatan tersebut sebagai momen berharga untuk kembali menyatukan hubungan kekeluargaan yang sempat renggang.

“Hari ini kita berkumpul sebagai saudara. Ini menunjukkan bahwa rasa cinta, persaudaraan, dan tekad untuk hidup rukun jauh lebih besar daripada emosi dan perpecahan di masa lalu. Saya merasa terhormat bisa hadir dalam Makan Patita ini,” ungkap Gubernur.

Mewakili Pemerintah Provinsi Maluku, ia menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi dan melaksanakan tradisi Makan Patita sebagai upaya konkret memperkuat persatuan di tengah masyarakat. Ia berharap nilai-nilai luhur seperti orang basudara serta pela gandong tidak berhenti sebagai simbol, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Peristiwa ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus membangun relasi sosial yang sehat, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan, khususnya di Negeri Liang yang kita cintai bersama,” ujarnya.

Gubernur juga mengingatkan bahwa konflik tidak pernah membawa keuntungan bagi siapa pun. Menurutnya, pertikaian hanya menyisakan penderitaan, baik secara fisik, ekonomi, maupun psikologis.

“Dalam konflik, tidak ada yang benar-benar menang. Yang tertinggal hanyalah luka dan kehilangan,” tegasnya.

Ia menambahkan, persaudaraan merupakan modal utama dalam membangun Maluku secara berkelanjutan. Gubernur mengutip berbagai ungkapan kearifan lokal Maluku seperti potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, dan sagu salempeng dipatah dua sebagai cerminan semangat kebersamaan yang telah lama hidup dalam masyarakat Maluku.

Baca juga: 8 Potensi Unggulan Kota Ambon yang Jadi Andalan Maluku

“Katong samua pung tanggung jawab jaga Maluku dengan baik. Tidak ada orang lain, selain ale dan beta, yang bisa membangun daerah ini,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Gubernur menyampaikan pesan bahwa perdamaian sejati bukan berarti tanpa persoalan, melainkan adanya kemauan bersama untuk menyelesaikan setiap perbedaan dengan cara yang bermartabat dan damai.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kapolda Maluku, Pangdam XV/Pattimura, Bupati Maluku Tengah, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Raja Negeri Liang, serta seluruh elemen masyarakat yang telah berkomitmen menjaga rekonsiliasi melalui tradisi Makan Patita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mediacenter.malukuprov.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Makan Patita Jadi Simbol Rekonsiliasi, Gubernur Maluku Tegaskan Perdamaian Negeri Liang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!