MALUKU-Bunuh diri bukan solusi dari semua masalah yang sedang menghimpit kehidupan. Kalau ada teman, saudara atau keluarga dilanda frustasi lalu merasakan dorongan bunuh diri, sebaiknya segera konsultasi ke dokter kesehatan jiwa.
Seorang wanita berinisial MEO, 53 tahun, ditemukan tewas tergantung di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Jumat, 1 Agustus 2025.
Korban pertama kali ditemukan oleh suaminya, AO, 64 tahun, pukul 08.40 WIT. Saat itu, korban ditemukan dalam kondisi kain terlilit leher.
Baca juga: Waspada ! Gelombang 4 Meter Berpotensi Terjang Perairan di Maluku
Kasi Humas Polres Maluku Tengah, Iptu Ahmad Yani Rumasoreng menjelaskan, kejadian itu terjadi di RT 08/ RW 002, Kelurahan Namasina, Kecamatan Kota Masohi.
"Jadi kejadian di rumah mereka, korban pertama kali ditemukan suaminya sudah dalam kondisi meninggal dengan posisi tergantung," kata Ahmad melalui keterangan tertulis, Jumat, 1 Agustus 2025.
Setelah mendapati informasi tersebut, personel piket SPKT Polres Maluku Tengah lalu mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).
Di TKP, kata Ahmad, pihaknya mendapat sepucuk surat yang diberikan oleh suami korban.
Baca juga: 14 Warga Tiongkok Diduga Penambang Emas di Gunung Botak, Punya Visa ?
Surat itu mencurahkan isi hati korban. Korban pun menulis dengan dialeg Maluku yang ditujukan ke suaminya.
Dalam sepucuk surat itu, MEO mengungkapkan suaminya keras hati dan tak bisa melindunginya. Surat itu korban tulis dengan dialek lokal Maluku.
Berikut isi surat korban yang ditinggalkan kepada suaminya:
"Maaf beta (saya) papa (bapak) kalo (kalau) papa bangun beta seng (tidak) ada lai (lagi) tapi beta didalam rumah saja, beta pulang ke tangan bapa di sorga dengan jalan ini," tulis korban.
"Jangan ribut papa Tuhan berkati Papa selalu, Papa pung (punya) keras hati ini yang tidak bisa melindungi beta, jangan ribut nanti orang tau (tahu) katong (kita) pung masalah hidup," sambung tulisan korban.
Ahmad berkata mencermati surat yang ditinggalkan diduga korban dan suaminya sedang ada masalah rumah tangga.
Meski begitu, lanjut Ahmad kekuarga korban menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Mereka pun menolak jasad korban diotopsi.
"Jadi pihak keluarga menolak otopsi dan menerima kematian korban sebagai musibah," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers